Kamis, 22 Desember 2011

Pemuda dan Budaya. Apa Kabar Ya?


Seperti yang kita ketahui bersama, kita hidup di era globalisasi, dimana teknologi makin makin berkembang, hidup kita dikelilingi oleh gadget-gadget dengan segala kelebihannya. “Instant” adalah “sesuatu”. Dan yang paling umum adalah masuknya budaya luar ke tempat dimana kita berada. Akibatnya budaya-budaya dalam negeri kini mulai memudar.

Saya ada pengalaman antara pemuda dan sebuah budaya. Saat itu saya diundang untuk menari daerah disebuah acara yang diadakan oleh sekumpulan mahasiswa pada sesi pembukaan, yang mana saat itu katanya ada orang penting yang datang. Memang pada saat awal mereka bertanya apakah saya dan teman-teman bisa untuk menari tarian Jawa Timur seperti Remo. Saya bilang bahwa kami sudah lama tidak menari Remo, namun kami bisa Jejer Banyuwangi. Mereka setuju asalkan tarian itu merupakan tarian Jawa Timur juga. Saat hari H, kami siap untuk menari. Tamu penting sudah duduk pada tempatnya. Kami diminta untuk segera naik kepanggung, dan mulai menari. Bisa dikatakan, yang memperhatikan kami saat menari itu hanya beberapa. Setelah selesai entah mengapa si MC menjelaskan kepada hadirin bahwa tarian yang baru saja kami bawakan adalah tari Remo! Waduh! Kesalahan besar! Jelas-jelas kami berkata bahwa kami akan membawakan tari Jejer Banyuwangi bukan Remo. Entahlah ini kesalahan informasi atau bagaimana, tapi apakah mereka tidak tahu apa beda diantara kedua tari itu? Tidak pernahkah mereka melihat tarian itu? Padahal itu dari Jawa Timur, tapi masih salah sebut. Bagaimana dengan daerah lain?



Ini hanyalah contoh kecil dari keadaan pemuda dengan budayanya. Seperti yang bisa kita lihat, minat pemuda terhadap budaya negeri sendiri sudah berkurang bahkan sangat kurang. Yang ingin mengetahui atau mempelajari budaya asli negeri sendiri sudah tidak sebanyak dulu. Pemuda jaman sekarang lebih suka dengan hal-hal yang berbau modern. Padahal, negeri ini butuh pemuda-pemudinya untuk melestarikan budaya-budaya yang mulai ditelan oleh waktu.

Apakah budaya asli kita itu jelek? Tidak layak ditonton? Apakah membosankan? Bagi saya tidak. Meskipun saya juga suka dengan hal-hal yang berbau modern, tapi saya sebisa mungkin tidak melupakan budaya asli negeri ini. Saya suka melihat pertunjukan-pertunjukan budaya seperti pentas tari, karya seni dan sesuatu yang belum kesampaian sampai sekarang adalah melihat pertunjukkan sendratari seperti sendratari Ramayana, sendratari yang ada di Bali, tari Kecak dan masi banyak lagi. Apakah rugi untuk mengetahui budaya sendiri? Memang sulit untuk mempertahankan budaya sendiri diantara budaya luar yang keluar masuk di sekitar kita. Tapi paling tidak jangan sampai memalukan negeri ini dihadapan orang banyak apalagi bangsa luar. Masa sama budaya sendiri nggak tahu? Malu dong? Mari bersama-sama kita lestarikan budaya-budaya asli Indonesia agar tidak punah ditelan zaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar