Senin, 07 Juli 2014

[Fiction] You Are My Kangsanim - FINAL

Maret 2015

JUNG NA RA’s POV

“CONGRATULATIONS!!!” Teriak kami para wisudawan seraya melempar topi toga dan rangkaian bunga yang kami bawa.

Ya, hari ini adalah upacara kelulusan kami sebagai mahasiswa, dan pada hari ini pula kami mendapatkan gelar sebagai Sarjana Komputer. Rasanya baru saja aku kuliah di jurusan ini, dan pada hari ini aku telah wisuda. Terlebih lagi dengan nilai cumlaude. Sungguh karunia yang besar dan luar biasa. Aku tidak sendiri, kedua sahabat ku yang selalu setia menemaniku turut merasakan kebahagiaan ini. Mereka menerima gelar wisuda dengan nilai cumlaude bersamaan dengan diriku. Aku sangat bersyukur, kita semua dapat bersama sampai akhir seperti ini.

Kami semua masih sibuk dengan euphoria kelulusan kami. Aku dan semua teman-temanku saling berpelukan satu sama lain. Saling berucap selamat, berucap doa, dan berucap harapan. Canda dan tawa terus menghiasi suasana saat ini. Hoobae kami, tak ketinggalan untuk mengucapkan selamat kepada kami, sunbaenya.

Satu, per satu orang tua dari para mahasiswa berdatangan. Mereka memeluk anak mereka, memberi kecupan, memberikan persembahan bunga, dan memberi selamat kepada anak kesayangan mereka. Anak mereka telah membuat mereka bangga. Orang tua Sae Mi dan Han Byul sudah datang menghampiri mereka. Namun orang tuaku belum terlihat disekitarku. Aku mengisi waktu dengan mengobrol dengan temanku lainnya saat menunggu kedatangan kedua orang tuaku, seraya menikmati euphoria ini.

“Jung Na Ra!” teriak seseorang.


Suara ini… Ya, aku kenal suara ini! Kucari di sekelilingku sumber dari suara ini. Terlihat di sisi sebrang sana, seorang namja mengenakan setelan jas tengah berdiri seraya membuka kedua lengannya dengan serangkai bunga ditangan kanannya. Ia tersenyum cerah saat ia melihatku tengah menoleh ke arahnya. Dia adalah Hyuk Sang Kangsanim. Nae sarang…

“Oppa!” teriakku tak peduli sekitar. Aku berlari ke arahnya dan mendarat tepat dipelukannya. Ia menangkapku dan memelukku erat kemudian mengangkatku seraya berputar dua putaran. Saat berhenti, ia menatap lekat mataku dengan tetap mengangkat tubuhku. Aku melingkarkan kedua tanganku di lehernya. Ia kemudian tersenyum lembut dan berkata,
“chukkae, Na Ra-aa” katanya dengan lembut.

“Gomapta, Oppa. Hehehe”
Ia menurunkan ku dan memberikan rangkaian bunga kepadaku seraya membalas dengan mengelus lembut kepalaku. Aku tersipu malu. Belum pernah kami seperti ini di depan umum. Aku tau, sekitar kami sedang memandang kami dengan tatapan terkaget-kaget. Kami tak peduli. Bagi kami, kebahagiaan hari ini adalah milik kami berdua. Dan tentu saja orang tuaku.

“sejak kapan oppa disini? Aku tidak melihatmu dari tadi?”
“babo! Aku sudah disini sejak prosesi wisuda mu. Kau kira aku akan melewatkan masa-masa akbarmu dalam mengakhiri pembelajaranmu selama 4 tahun ini? Tidak akan! Hahaha”
“Aissh~ jinjja”
“Sae Mi dan Han Byul?”
“mereka sedang menemui orang tua mereka. Sedang aku disini sedang menunggu orang tua ku. Hhhmm sepertinya mereka kebingungan mencariku karena keadaannya ramai. Sudah kuhubungi mereka sejak tadi, sama sekali tidak dijawab”
“Kau tidak menungguku?”
“Aniya! Bweek!!”
“Kau ini!!” katanya sambil menghancurkan tatanan rambutku yang sudah indah bak princess dari istana.
“Ya! Oppa hajima!! Butuh waktu lama untuk membenarkan ini!”

“Na Ra-aa!” suara ini…

“Eomma!! Appa!!” teriakku sambil berlari ke arah mereka.
Mereka menyambutku dengan pelukan hangat dan tangis bahagia. Senyum cerah terpancar di wajah mereka. Kau berhasil membahagiakan mereka Jung Na Ra! Kau berhasil!
“Aigoo anak appa sudah wisudaa! Sudah sarjana!”
“Kau hebat Na Ra~ Eomma bangga padamu!”
“Selamat ya! Terus kembangkan prestasimu! Dan buat appa eomma terus bangga!”
“hehehe gomawo eomma, appa!”
“uuuu Saranghae nae Na Ra~”
“Na do saranghae eomma appa~ Kenapa kalian lama sekali? Aku sudah menanti kalian lama sekali!”
“Ya! Gedungmu ini besar. Situasinya juga sedang ramai. Butuh waktu buat appa dan eomma untuk mencarimu. Apa lagi baju yang kalian kenakan sama semua!”
“Aku kira kalian tidak datang atau terlambat datang. Aku kan khawatir”
“Aish babo! Gimana eomma dan appa tidak datang di upacara kelulusan anak satu-satunya ini? Kau ada-ada saja!”
“Nuguseumnikka?” Tanya appa tiba-tiba.
“eh?”

Aku berbalik arah. Dibelakangku sudah berdiri Hyuk Sang Kangsanim. Ia tersenyum, sepertinya bermaksut untuk menyapa kedua orang tuaku. Aigoo,  ini adalah kali pertama mereka bertemu. Aku harus berkata apa jika eomma appa bertanya ini siapaa? Bagaimana kalo appa atau eomma menolak? Tidak setuju? Menentang keras? Haruskah kandas begitu saja? Jebal andwaeee!
“Nuguseumnikka?” Tanya appa lagi.
“Annyeonghaseyo. Hwang Hyuk Sang imnida. Bengapseumnida.” Eomma Appa masih terdiam dan saling bertatapan.
“eomma… appa.. igeon.. Hyuk Sang-ssi neun… Nae Kangsanim..”
“Ahhh…”
“Geurigo… N Nae namjachingu…”
“M mwo?” terlihat ekspresi Eomma berubah.
“Geuge musunsuriya? Neoeui Kangsanim? Namjachingu?? Jangnan anhaeji”
“Appa, dengarkan penjelasanku!”
“Kkhaja, kita pulang sekarang!” perintah Appa
“Yeobo…”
“Appa dengarkan penjelasanku dulu” paksaku seraya menarik lengan Appa.
“Najung e! Jigeum kkhaja!”
“Appa~”
“jeosonghamnida… Biar saya yang menjelaskan ini semua.” Potong Hyuk Sang Kangsanim secara tiba-tiba.

Appa berbalik badan, dan menatapnya secara lekat dengan pandangan tajamnya. Ku mohon, apapun itu yang buruk jangan terjadi.
“Najung eyo Hyuk Sang-ssi! Jelaskan saja itu dirumah!” jawab ayah seraya berbalik badan dan berjalan meninggalkan kami.
“Yeobo… gidarilke~” Eomma pun menyusul Appa. Sekitar ku menatap penuh Tanya ke arah kami. Mungkin keputusan yang tepat untuk membicarakan ini semua dirumah“Oppa… otthoke?” Tanya ku dengan nada sedih pada Hyuk Sang Kangsanim.
“kkeokjong hajima… Aku sudah menanti saat seperti ini. Kalau aku sudah seperti ini, Itu berarti aku sudah mempersiapkan semuanya. Kau berdoa saja semoga semua lancar, dan aku bisa membuat orang tua mu percaya”
“geundae…”
“shhh.. hajima… semua pasti baik-baik saja, eo? Sudah, susulah orang tuamu dan pulang ke rumah. Aku akan menyusul dengan mobilku. Kkeokjong hajima, eo? Arachi?”
“geurae.. Aku pulang dulu..”
“eo.. ittabwa..” katanya seraya mengelus lembut kepalaku.

Aku berjalan perlahan menyusul kedua orang tuaku yang sudah lebih dulu berjalan didepan sana. Suasana berubah 180 derajat. Euphoria kelulusan yang tadi sangat terasa, kini berubah menjadi hening dan kaku. Di mobil tidak ada satu pun kata terucap dari mulut kami. Untuk memmulai pembicaraan pun aku tak berani, Tuhan ku mohon jangan sampai sesuatu yang buruk terjadi pada kami.

Sesampainya dirumah, Hyuk Sang Kangsanim sudah berdiri tegak di depan pagar rumah. Entah ia lajukan mobilnya berapa km/jam hingga ia bisa tiba dirumahku lebih cepat dari kami. Appa memarkirkan mobilnya dan berhenti sesaat. Sepertinya sedang memandang lekat Hyuk Sang Kangsanim. Baru kemudian appa dan eomma turun serta aku yang menyusul mereka. Setibanya di depan rumah Hyuk Sang Kangsanim melihat ke arah eomma dan appa seraya membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda hormat dalam menyapa mereka.
“annyeonghaseyo..” sapanya.
Namun appa tidak bergeming dan tetap berjalan masuk kedalam rumah. Beruntung eomma masih peduli dan menanggapi Hyuk Sang Kangsanim. Eomma berhenti di depan Hyuk Sang Kangsanim dan membalasnya lembut walau masih terkesan dingin.
“Hyuk Sang-ssi maafkan appa nya Na Ra. Mungkin nanti setelah kau jelaskan semuanya, ia bisa lebih melunak. Iya.. kau memang harus menjelaskannya pada kami.”
“Kamsahamnida eommonim, saya pasti akan melakukan yang terbaik”
“Geurae.. kkhaja kita masuk!”
“Ne! kamsahamnida eommonim, kamsahamnida!”
Aku berjalan berdampingan dengan Hyuk Sang Kangsanim menyusul eomma.

Sesampainya di ruang tamu, terlihat ayah sudah duduk menunggu kami. Eomma langsung menariikk kedalam, menyuruhkan berganti pakaian, dan menyiapkan hidangan kecil untuk mereka. Tak lupa, eomma mempersilahkan Hyuk Sang Kangsanim untuk duduk.
“Hyuk Sang-ssi, silahkan duduk.”
“Ne, Kamsahamnida” Hyuk Sang Kangsanim menjawab dan duduk di sofa. Semoga hal-hal yang buruk tidak terjadi. Aku pun masuk ke kamar untuk berganti baju dan menyusul eomma ke dapur untuk mempersiapkan hidangan kecil untuk mereka.
~**~

HWANG HYUK SANG’s POV

Kalau boleh jujur, ya aku gugup. Gugup setengah mati. Berhadapan dengan orang tua dari orang yang selama ini aku cintai, mustahil kalo tidak gugup. Tapi untuk membuktikan bahwa aku yang terbaik untuk Na Ra, aku tidak boleh terlihat gugup. Aku harus memperlihatkan bahwa aku sudah mempersiapkan semuanya. Aku sudah menanti saat-saat ini. Aku akan meminta ijin juga untuk melamar dan menikahin Na Ra tahun ini sebelum aku berangkat ke Jepang. Kau pasti bisa Hwang Hyuk Sang!
“Annyeonghaseyo abonim…” sapa ku lembut pada Appa nya Na Ra.
Tatapan dinginnya itu pasti bisa membuat nyali siapa saja yang melihatnya, ciut seketika. Tetapi aku tidak boleh seperti itu.
“Apa yang akan kau jelaskan pada kami?”
“Jeosonghamnida abonim, tiba-tiba saja datang dan membuat semuanya terkejut.”
“Malhae…”
“Saya adalah Kangsanim dan Namjachingu nya Jung Na Ra. Saya lulusan S2 Ritsumeikan University dan mulai mengajar di jurusan tempat Na Ra kuliah sejak tahun 2008. Kami sudah bersama sejak 2,5 tahun yang lalu.”
“2,5 tahun yang lalu?!”
“Ne, saya dulu sempat mengajarnya di salah satu mata kuliah.. lalu kami memutuskan untuk bersama, namun menyembunyikannya untuk sementara. Hal ini dikarenakan untuk kebaikan Na Ra. Saya tidak ingin dengan adanya hubungan kami ini dapat mengacaukan pendidikan Na Ra akibat keadaan sosialnya yang pasti akan berubah jika mereka mengetahui hubungan kami, karena itu kami menyembunyikannya hingga dirasa ada waktu yang tepat untuk membukanya. Dan saya rasa, waktu itu adalah sekarang. Na Ra sudah wisuda, dengan nilai yang gemilang. Dengan demikian dapat dikatakan hubungan kami tidak sampai mempengaruhi kestabilan nilai Na Ra”
“Apa saja yang sudah kalian lakukan selama ini?”
“Tidak ada yang membahayakan jiwa Na Ra. Kami hanya melakukan hal-hal normal layaknya sepasang kekasih dan tentu saja tidak menggangu kuliah Na Ra. Na Ra tetap kuliah dan rajin belajar seperti biasa. Na Ra juga tetap bisa bergaul dengan teman-temannya dan tidak ada pembully-an. Kami hanya pergi bermain di saat weekend, sekedar makan bersama sepulang kuliah, atau jika Na Ra dan saya ada waktu. Setiap Na Ra ada pada musim ujian, saya tidak akan mengganggu belajarnya, namun tetap terus menyemangatinya. Terkadang kami pun belajar bersama”
“Apakah orang tua mu tau tentang hal ini?”

Saat Appa nya Na Ra mempertanyakan tentang hal ini, Na Ra dan eomma nya datang membawakan kami masing-masing secangkir teh hangat dan dua kaleng biscuit. Ia menghidangkannya pada kami. Sekilas aku dan Na Ra saling bertatapan. Aku membalasnya dengan senyum tipis.
“silahkan dicicipi Hyuk Sang-ssi” kata Eommanya
“Kamsahamnida eommonim..”
“Lanjutkan jawaban pertanyaanku!”
“Ah Ne, Abonim. Orang tua saya sudah mengetahui tentang hubungan kami. Jadi sebelum bertemu dengan abonim dan juga eommonim, Na Ra sudah bertemu lebih dahulu dengan kedua orang tua saya. Kami sudah membicarakannya bersama dan orang tua saya setuju dengan hubungan ini.”
“Kapan itu kalian lakukan?”
“Sekitar 1 tahun yang lalu.”
“Dan kalian tetap menyembunyikannya dari kami? Luar biasa!”
“jeosonghamnida abonim. Tapi kami memang benar-benar mencari situasi yang tepat, agar pada saat kami memberi tahu. Eommonim dan abonim bisa mengijinkan kami”
“Kau percaya diri sekali? Kau memberitahu kami sekarang, berarti kau yakin kami akan mengijinkan begitu saja? Lucu sekali. Memang kau punya apa? Apa kau sudah memiliki rencana ke depan agar kami rela melepaskan Na Ra padamu? Umur kalian beda jauh. Kau yakin bisa saling mengimbangi satu sama lain? Di usia kalian yang segini, hubungan bukanlah sebuah mainan. Sudah saatnya dibawa serius!”
“Begini abonim, eomonim. Maaf jika memang terkesan mendadak. Tapi dengan ini, selain saya meminta ijin atas hubungan ini, saya juga meminta ijin untuk melamar dan menikahi Na Ra tengah tahun ini sebelum saya berangkat ke Jepang. Nanti di Jepang, saya akan melanjutkan studi saya. Kami akan hidup bersama disana. Saya dengar Na Ra juga berminat untuk studi di Jepang. Jadi Na Ra juga bisa sekolah di sana selain tentu saja membangun rumah tangga bersama . Atau jika tidak Na Ra bisa bekerja disana, membantu proyek yang kebetulan akan saya kerjakan disana dan juga menjadi ibu rumah tangga yang baik. Saya yakin dengan skill yang Na Ra punya, Na Ra pasti bisa melakukan sesuatu yang berguna. Usia Na Ra juga sudah cukup jika akan melanjutkan ke hubungan yang lebih tinggi. Jadi saya memutuskan untuk melamar dan menikahinya.”
“lalu?”
“Kami sudah membicarakan ini sebelumnya, dan Na Ra bersedia. Jadi, tinggal saya meminta ijin kepada abonim dan eommonim, apakah sekiranya mengijinkan saya dan Na Ra hidup bersama, membangun mahligai rumah tangga dan mencari ilmu bersama. Saya tau, saya pastinya tidak sempurna. Tetapi, sebisa mungkin saya akan membuat Na Ra bahagia dan tidak akan mengecewakan Na Ra dan tidak mengecewakan abonim dan eommonim. Saya akan membuktikan bahwa saya bisa melakukannya. Kedua orang tua saya sudah mengetahui hal ini dan menyetujuinya. Jadi saya harap abonim dan emmonim mau mengijinkan kami.”
“omong kosong!”
“Mungkin jika dikatakan sekarang, tentu saja saya tidak dapat membuktikannya. Manusia juga hanya merencakan, Tuhan lah yang memutuskan. Namun sebagai manusia yang baik, kita harus tetap berusaha dan berjuang agar dapat mencapai apa yang kita inginkan. Untuk keuangan sehari-hari, sebisa mungkin terjamin, karena selain sekolah saya juga bekerja. Na Ra juga bisa bekerja. Tidak akan saya biarkan Na Ra terlantar dan kelaparan di sana. Jika saya mengingkari janji saya ini suatu saat nanti, abonim dan eommonim, dapat mengambil kembali Na Ra walau saya masih begitu mencintainya.”
“geuraeyo?”
“Ne, abonim apa yang saya katakan saat ini, tidak ada sedikit pun dusta. Saya sangat mencintai Na Ra. Saya mau menerima Na Ra apa adanya. Ijinkan saya untuk menikahi Na Ra”

Appa nya Na Ra terlihat berpikir sebentar dan menatap Na Ra.
“Na Ra.. Kau bagaimana?”

Aku melihat tatapan Na Ra begitu khawatir. Ia menggenggam tangan ibunya seerat mungkin seakan menahan sakit yang luar biasa. Dia pasti sangat khawatir sesuatu yang buruk terjadi. Semoga itu tidak terjadi.
“Appa, eomma… aku sangat mencintai Hyuk Sang Kangsanim. Ku mohon ijinkanlah kami…”
“yeobo… Hyuk Sang-ssi sudah memberikan janji dan jaminan kepada kita. Itu berarti dia sudah mempersiapkan semua. Keputusan semua ada di tangan mu..”

Aku benar-benar gugup menanti jawaban dari appanya Na Ra. Jantungku berdegup kencang. Ku mohon keluarlah jawaban yang baik. Appa nya Na Ra terlihat berpikir kembali.
“Geurae! Buktikan segala macam janjimu itu. Kami menantinya. Tapi jika tidak dapat kau tepati, maka Na Ra akan kami ambil kembali.”
“Jeongmalyo? Kamsahamnida Abonim! Eommonim! Jeongmal kamsahamnida! Jeongmal kamsahamnida! Saya pasti akan membuktikannya!” aku melihat senyum terkembang di wajah mereka. Terutama Na Ra. Suasana mulai mencair

“Eomma Appa jinjja gomawoooo!!!” teriak Na Ra sambil memeluk kedua orang tuanya.
Kau berhasil Hyuk Sang! Kau berhasil! Sekarang, kau harus bersiap untuk membuat mereka tak menyesali keputusan mereka!
~**~

JUNG NA RA’s POV

Akhir Juli 2015
Aku sedang duduk manis disebuah ruangan yang sejuk, putih dan bersih. Aku tidak sendirian. Ada beberapa orang perias tengah sibuk menyulapku menjadi seorang putri dari istana. Gaun panjang berwarna putih telah terpasang pada tubuhku. Aku sudah besiap seperti ini sejak 1,5 jam yang lalu. Dan sekarang telah memasuki proses finishing. Sekitar 1 jam lagi, prosesi pernikahan ku dan Hyuk Sang Kangsanim dimulai. Semakin dekat, semakin berdebar pula jantungku. Aku belum bertemu dengannya sejak pagi tadi karena harus mempersiapkan pernikahan ini, dan juga memang sengaja untuk tidak ketemu. Biar spesial katanya. Antara tidak sabar dan malu untuk bertemu  dengannya. Seperti apakah dia hari ini?
Drrrrttt drrrtttt
“Nona ini handphonenya bunyi”
“oh, ne gomapta”

Ku lihat Handphoneku. 1 buah pesan line datang dan ku buka. Dari Hyuk Sang Kangsanim.

“Nae Yeobooo~ mwohe??”
disulap jadi bidadari hahaha”
“babo! Hahaha”
“oppa mwohe?”
“geunyang… membayangkan wajahmu setelah mengenakan baju pengantin yang seksi. Xixixixi”
“byeontae! :p”
“Ya!”
“xixixixi”
“bap mogosseo?”
“Jogeum”
“Ah wae?”
“Geunyang…”
“5 menit lagi akan ada makanan datang ke ruanganmu. Kau harus makan itu. Aku tidak mau kau kenapa-kenapa dihari penting bagi kita”
“oppa… andwae!”

“Nona, ada kiriman makanan untuk nona” kata salah seorang penjaga mengantarkan sekotak makanan untukku.
“Ah.. gomapta”
Kulihat sekotak makanan datang. Berisi sebuah cheese cake dan sekotak kecil susu coklat. Didalam kotak itu juga ada kartu bertuliskan “Saranghae Jung Nara*heart*”

“oppa! Makanannya sudah datang”
“Johta! Jigeum mogo..”
“Ne oppa, aku makan dulu. Gomawooo *heart*”
“Eo~ ittabwa~ :*”
“Miss u :*”
“Miss u too~”

Aku mengakhiri obrolan kami. Penjaga membukakan makanan itu untukku dan aku mulai menyantapnya. Meskipun ini hanya makanan biasa, tapi hari ini terasa istimewa.
~**~

JUNG NA RA’s POV

Akhirnya prosesi pernikahan kami dimulai. Aku perlahan masuk keruangan upacara pernikahan kami, diiringi oleh Appa. Di ujung ruangan sana berdirilah seseorang yang sangat ku cintai dan akan mendampingi ku sampai akhir hayat memisahkan kami, Hwang Hyuk Sang. Ia berdiri dengan gagahnya disamping seorang penghulu yang akan menikahkan kami. Saat aku berjalan semakin dekat, ia mulai menoleh ke arahku. Aku bisa merasakan, bahwa ia menatapku lekat bagai tak berkedip. Sesampainya aku hadapannya, ia semakin lekat menatapku. Senyum cerah terkembang diwajahnya.
“neon yeppeune..” katanya lirih.
Aku hanya menatapnya lembut dan membalasnya dengan senyuman malu ku. Upacara pernikahan pun dimulai.

Upacara selesai. Kami telah sah menjadi pasangan suami-istri. Bahagia yang ku rasakan sungguh tak terhingga. Senyum cerah semakin berkembang di wajah Hyuk Sang Kangsanim. Ia menatapku lekat lalu kemudian mengecup lembut keningku. Lalu kemudian ia beralih dan mengecup lembut bibirku.
“Saranghae Na Ra-aa” katanya disela ia menciumku.
Mulai detik ini, aku telah sah menjadi miliknya untuk selamanya. Dan rasa bahagia ku semakin lengkap, karena aku dapat merasakan kebahagiaan ini lengkap dengan orang-orang yang kusayangi, eomma, appa, Sae Mid an Han Byul lengkap dengan pasangan mereka masing-masing. Terima kasih Tuhan telah memberi kebahagian terbesar dan kenangan terindah yang pernah ada sepanjang hidupku.
~**~

JUNG NA RA’s POV
Tokyo, September 2015
“Selamat pagi yeobo~” sapa suami ku tercinta seraya memelukku dari belakang dan mencium pipiku. Sedang aku sedang menyiapkan omelet, sosis goring, keju segelas susu dan segelas jus jeruk untuk kami sarapan.
“Selamat pagi juga yeobo, kau berangkat awal hari ini?”
“Eo, ada rapat dengan pimpinan proyek dulu sebelum kuliah. Desain web waktu itu apa sudah jadi?”
“Eo, tinggal finishing. Duduklah, akan aku antarkan makanan untukmu.”
“geurae yeobo~” katanya sambil mencubit pelan pipiku.

Ditengah aku menyiapkan,sarapan entah kenapa perutku tiba-tiba terasa mual, dan rasanya aku ingin mengeluarkan segala isi yang ada diperutku. Segera aku menuju kemar mandi, meninggalkan masakanku yang belum selesai.
“Na Ra-aa! Neo waeirae?” teriak Hyuk Sang. Namun sama sekali tak ku hiraukan.
Sesampainya di kamar mandi, segera ku keluarkan segala isi sesuatunya. Kepalaku berat dan pusing. Terdengar suaru Hyuk Sang semakin dekat dan ia datang untuk menolongku.
“Ya! gwaenchana?”
“Aniya, perutku terasa mual dan kepalaku pusing.”
“sudah 2 hari ini kau seperti ini. Kau salah makan apa? Beristirahatlah. Nanti sore kita ke dokter Ai, eo? Jangan beraktifitas dulu sampai aku pulang! Jangan buat desain webnya. Ayo aku antarkan kau ke kamar.”
“eo arrasseo~”
Hyuk Sang membopohku ke kamar kami. Sejujurnya rasa mual itu ada namun sudah lebih baik dari sebelumnya. Ia menidurkan dan menyelimutiku dengan selimut hangatnya. Sepertinya aku belum terlalu cocok dengan makanan jepang. Ahhh aku rindu masakan Eomma.

Sore harinya kami ke dokter Ai, dokter langganan kami selama di Jepang. Aku melewati beberapa pemeriksaan termasuk didalamnya pemeriksaan yang cukup aneh dilakukan hanya untuk seorang yang mual karena salah makan atau masuk angin.
“Bagaimana sensei. Istri saya sakit apa?”
“selamat ya Hyuk Sang-san dan Na Ra-san, kalian akan segera memiliki buah hati~ dijaga baik-baik ya, nanti akan saya rekomendasikan dokter kandungan terdekat agar kalian bisa kontrol dengan mudah. Sekali lagi selamat yaa~”
Jinjjaaaa~~
~**~

JUNG NA RA’s POV

Tokyo, Juni 2016
“neo gwaenchana?” Tanya Hyuk Sang di sore hari saat kami duduk-duduk di halaman belakang kami sambil meminum teh.
“gwaenchana~ hanya rasanya semakin hari perutku semakin besar dan memberat. Bayi ini semakin sering menendang-nendang ku.”
“mungkin dia sudah tidak sabar untuk keluar. Dokter memperkirakan bulan depan kan?”
“begitulah…”
“kau sudah siap?”
“siap tidak siap, itulah yang harus aku lakukan. Aku akan membawanya keluar dengan selamat. Ini adalah kebahagian tersendiri bagi seorang ibu”
“kau harus mempersiapkannya mulai dari sekarang. Kau harus menjaga kesehatan. Ingat selalu kata dokter!”
“eo… aku tidak akan pernah lupa”
“aku pasti akan mendampingimu disaat terpenting itu. Kau harus kuat dan semangat ya~”
“geureom~ ah! Dia menendangku lagi!”
“Jinjja?” katanya tertarik dan mendekatku seraya mengelus lembut perutku. Takut dan bahagia semua bercampur menjadi satu.
~**~

JUNG NA RA’s POV
Tokyo, Juli 2016
Suara tangis bayi itu pecah diruang operasi sebuah rumah sakit besar di Tokyo. Ya, hari adalah hari yang aku dan Hyuk Sang tunggu. Bayi yang selama 9 bulan ini aku kandung akhirnya berhasil ku lahirkan dengan sehat dan selamat. Bayi perempuan nan cantik dan manis, saat ini sedang dibersihkan, diberi kain dan di dekatkan padaku, tertidur disampingku. ia terlihat begitu cantik dan imut. Matanya terpejam . bibir mungil nya itu sangat indah. Ya, kau berhasil Na Ra. Kau berhasil membawanya keluar, ke dunia ini. Kau resmi menjadi ibu. Hyuk Sang yang terduduk disebelahku mengelus lembut pipi mungil bayi itu. Lalu memandangku lekat dan mengelus lembut kepalaku yang penuh keringat. Air mata tak berhenti keluar dari kedua mataku. Begitu juga dengannya.
“Terima Kasih Na Ra-aa, kau berhasil! Kau berhasil! Kau melakukannya! Kau hebat! Terima kasih telah membawanya dengan selamat ke dunia ini” katanya berterima kasih. Lalu mencium lembut keningku.
Selamat datang ke dunia dan keluarga kecil ini, Hwang Na Ri…

~*THE END*~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar